Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label askep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label askep. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

Askep Tuberculosa

1. Definisi

a. Tuberkolusis
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, th 1995. hal 73)

b. Batuk Darah(Hemoptisis)
Batuk darah (hemoptisis)adalah darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi. (Hood Alsagaff, 1995, hal 301)

2. Faktor- factor yang mempengaruhi timbulnya masalah.

a. anatomi dan fisiologi
System pernafasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, sampai dengan alveoli dan paru-paru. Hidung merupakan saluran pernafasan yang pertama, mempunyai dua lubang/cavum nasi. Didalam terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung. Hidung dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (Drs. H. Syaifuddin. B . Ac , th 1997 , hal 87 )

Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan, faring terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Faring dibagi atas tiga bagian yaitu sebelah atas yang sejajar dengan koana yaitu nasofaring, bagian tengah dengan istimus fausium disebut orofaring, dan dibagian bawah sekali dinamakan laringofaring.(Drs .H.syafuddin. B.Ac 1997 hal 88)

Trakea merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin), panjang 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa. Trakea dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri (Drs .H. Syaifuddin .B. Ac th 1997, hal 88-89)
Bronkus merupakan lanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri, bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung – ujung nya terdapat gelembung paru atau gelembung alveoli (H.Syaifuddin B Ac th1997, hal 89-90.

Paru- paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung – gelembung. Paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap ke tengah rongga dada / kavum mediastinum. Paru-paru mendapatkan darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibandingkan dengan darah arteri pulmonalis yang berasal dari atrium kiri.besar daya muat udara oleh paru-paru ialah 4500 ml sampai 5000 ml udara. Hanya sebagian kecil udara ini, kira-kira 1/10 nya atau 500 ml adalah udara pasang surut. Sedangkan kapasitas paru-paru adalah volume udara yang dapat di capai masuk dan keluar paru-paru yang dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung sebanyak kuranglebih 5 liter. (Drs. H. Syaifuddin . B.Ac.th 1997 hal 90 , EVELYN,C, PIERCE, 1995 hal 221)

Pernafasan ( respirasi ) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh (inspirasi) serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh (ekspirasi) yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru. proses pernafasan tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu:

1. Ventilasi pulmoner.
Ventilasi merupakan proses inspirasi dan ekspirasi yang merupakan proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar, akibatnya diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi. Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali, maka udara terdorong keluar. (NI LUH GEDE.Y.A.SKp.1995.hal 124. Drs.H.Syaifuddin.B.Ac.1997.hal 91)

2. Difusi Gas.
Difusi Gas adalah bergeraknya gas CO2 dan CO3 atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi kearah yang bertekanann rendah. Difusi gas melalui membran pernafasan yang dipengaruhi oleh factor ketebalan membran, luas permukaan membran, komposisi membran, koefisien difusi O2 dan CO2 serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2. Dalam Difusi gas ini pernfasan yang berperan penting yaitu alveoli dan darah. (Ni Luh Gede.Y.A. SKP. Th 1995 hal 124, Drs. H. Syaifuddin. B.Ac.1997 hal 93.Hood .Alsegaff th 1995. hal 36-37)

3. Transportasi Gas
Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah). Masuknya O2 kedalam sel darah yang bergabung dengan hemoglobin yang kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisa 3 % yang ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel. (Ni Luh Gede Y. A. Skp th1995 hal 125 Hood Alsegaff th 1995 hal 40.

b. Patofisiologi
Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara ( airbone ) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya. (Sylvia.A.Price.1995.hal 754)

Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru. ( dr.Hendrawan.N.1996,hal 1-2 )

Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa membangkitkan reaksi peradangan. Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini di gantikan oleh makrofag. Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional, sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit, proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin. Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas.Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus.(Sylvia.A Price:1995;754)

Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkijauan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas.Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.(Syilvia.A Price:1995;754)

Batuk darah (hemaptoe) adalah batuk darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas sehingga timbul sufokal yang sering fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu 600-1000cc/24 jam.Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas.

Rabu, 06 April 2011

Askep Konjungtivitis (peradangan pada mata)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Struktur dan Fungsi Mata

Mata memiliki struktur sebagai berikut:

  1. Sklera (bagian putih mata)

    Merupakan lapisan luar mata yang berwarna putih dan relatif kuat.

  2. Konjungtiva

    Selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera.

  3. Kornea

    Struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.

  4. Pupil

    Daerah hitam di tengah-tengah iris.

  5. Iris

    Jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil.

  6. Lensa

    Struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina.

  7. Retina

    Lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak.

  8. Saraf optikus

    Kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak.


     


     

  9. Humor aqueus

    Cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh prosesus siliaris.

  10. Humor vitreus

    Gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata).

Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer sedang yang lain, sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain. Kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal, dapat dikontrol dan penglihatan dapat dipertahankan (Brunner dan Suddarth, 2001)

Infeksi adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama yan menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi intraselular/respon antigen antibodi (dr. Difa Danis, kamus istilah kedokteran , 2002).

Inflamasi dan infeksi dapat terjadi pada beberapa struktur mata dan terhitung lebih dari setengah kelainan mata. Kelainan-kelainan yang umum terjadi pada mata oarng dewasa meliputi sebagai berikut :

  1. Radang/inflamasi pada kelopak mata, konjungtiva, kornea, koroid badan ciriary dan iris
  2. Katarak, kekeruhan lensa
  3. Glaukoma, peningkatan tekanan dalam bola mata (IOP)
  4. Retina robek/lepas

Tetapi sebagian orang mengira penyakit radang mata/mata merah hanya penyakit biasa cukup diberi tetes mata biasa sudah cukup. Padahal bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina.


 


 

  1. TUJUAN
    1. Tujuan Umum

      Untuk menambah wawasan pembaca tentang penyakit infeksi/peradangan pada mata yang terdiri dari konjungstivitis, keratitis, dan uveitis.

    2. Tujuan Khusus
      1. Mengetahui definisi konjungtivitis, keratitis, dan uveitis
      2. Mengatur tentang infeksi mata
      3. Mengerti tentang tanda dan gejala infeksi mata
      4. Mengetahui macam – macam infeksi mata
      5. Mengetahui komplikasi infeksi mata
      6. Mengetahui cara pencegahan dan penatalaksanaan infeksi mata


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

TINJAUAN TEORI

  1. KONSEP MEDIK
    1. Konjungtivitis
      1. Defenisi

        Konjungtivitis (mata merah) adalah inflamasi pada konjungtiva oleh virus, bakteri, clamydia, alergi, trauma (sengatan matahari) (Barbara C Long, 1996).

        Konjungtivitas adalah inflamasi peradangan konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat, mata tampak merah sehingga sering disebut penyakit mata merah (Brunner dan suddarth, 2001).

      2. Etiologi
        1. Bisa bersifat infeksius (bakteri, klamidia, virus, jamur, parasit)
        2. Imunologis (alergi)
        3. Iritatif ( bahan kimia, suhu listrik, radiasi, misalnya akibat sinar ultraviolet )
      3. Manifestasi Klinik

        Tanda dan gejala konjungtivitis bisa meliputi

        1. Hiperemia (kemerahan)
        2. Cairan
        3. Edema
        4. Pengeluaran air mata
        5. Gatal pada kornea
        6. Rasa terbakar/rasa tercakar
        7. Seperti terasa ada benda asing
      4. Penatalaksanaan / Pengobatan

        Penatalaksanaan, konjungtivitis biasanya hilang sendiri. Tapi, bergantung pada penyebabnya, terapi dapat meliputi antibiotik sistemik atau topikal, bahan antiinflamasi, irigasi mata, pembersih kelopak mata, atau kompres hangat.

        Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, untuk mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan untuk mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.

      5. Komplikasi
        1. Komplikasi pada konjungstivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis
        2. Komplikasi pada konjungstivitis purulenta adalah seringnya berupa ulkus kornea
        3. Komplikasi pada konjungstivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan parut yang tebal di kornea dapat mengganggu penglihatan orang menjadi buta
        4. Komplikasi konjungstivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat mengganggu pengelihatan
    2. Keratitis
      1. Defenisi

        Keratitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek, alergi, kekurangan vit. A (Barbara C Lonf 1996)

        Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan.

  • Keratitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri.
  • Keratitis Pemajanan adalah infeksi pada kornea yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata. Kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan infeksi sekunder (Brunner dan Suddarth, 2001)
  1. Etiologi

    Penyebab dari keratitis yaitu ;

    1. Organisme bakteri
    2. Virus
    3. Jamur atau parasit (Brunner dan Suddarth, 2001)
  2. Manifestasi Klinik

    Manifestasi klinis dari keratitis meliputi :

    1. Inflamasi bola mata yang jelas
    2. Terasa benda asing di mata
    3. Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun
    4. Ulserasi epitel
    5. Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior)
    6. Dapat terjadi perforasi kornea
    7. Ekstrusi iris dan endoftalmitis
    8. Fotofobia
    9. Mata berair
    10. Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol (Brunner dan Suddarth, 2001)
  3. Penatalaksanaan / Pengobatan
  • Keratitis Mikrobial
  1. Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan
  2. Pemeriksaan berkala oleh ahli optalmologi
  3. Cuci tangan secara seksama
  4. Harus memakai sarung tangan setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata
  5. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin
  6. Diperlukan aseaminofen untuk mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk mengurangi nyeri dan inflamasi
  • Keraktitis Pemajanan
  1. Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah diberi pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap kornea
  2. Dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipe-balutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman.
  3. Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek (Brunne dan Suddarth, 2001)
  1. Komplikasi

    Komplikasi keratitis, yaitu ;

    1. Hipopion
    2. Perforasi kornea
  1. Uveitis
    1. Defenisi

      Uveitis adalah peradangan pada uvea yang terdiri dari 3 struktur yaitu iris, badan siliar, karoid.

      Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea (iris, badan siliar dan karoid). karena uvea mengandung banyak pembuluh darah yang memberikan nutrisi pada mata maka jika terjadi peradangan pada lapisan ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan (Brunner dan Suddarth, 2001)


       

    2. Etiologi
      1. Alergen
      2. Bakteri
      3. Jamur
      4. Virus
      5. Bahan kimia
      6. Trauma
      7. Penyakit sistemik seperti sarkoidosis, kolitis, ulserativa, spondilitis, ankilosis, sindroma reiter, pars planitis, toksoplasmosis, infeksi sitomegalovirus, nekrosis retina akut, toksokariasis, histoplamosis, tuberkulosis, sifilis, sindroma behcel, oflamia simpatetik, sindroma vogt-hoyanagi-harada, sarkoma/limfoma
    3. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis dari uveitis meliputi :

Anterior :

  1. nyeri mata
  2. fotofobia
  3. lakrimasi penglihatan kabur
  4. pupil kecil

Posterior :

  1. Penurunan penglihatan
  2. Tidak nyaman yang ringan pada mata
  3. Gejala awal pada uveitis mungkin tidak terlalu berat. Penglihatan menjadi kabur/penderita melihat bintik–bintik hitam yang nelayang–layang. pada iritis biasanya timbul nyeri hebat, kemerahan pada sklera (bagian putih mata) dan fotofobia
  1. Penatalaksanaan / Pengobatan

    Penatalaksanaan pada uveitis, yaitu ;

    1. Pada uveitis anterior kronis (iritis), obat mata dilatar harus diberikan segera untuk mencegah pembentukan jaringan parut dan adesi ke lensa. Kortikosteroid lakal dipergunakan untuk mengurangi peradangan dan kaca mata hitam
    2. Pada uveitis intermediat (pars planis, siklitis kronis), diberikan steroid topikal atau injeksi untuk kasus yang berat
    3. Pada uveitis posterior (peradangan yang mengenai khoroid/retina) biasanya berhubungan dengan berbagai macam penyakit sistemik seperti AIDS. Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk mengurangi peradangan bersama dengan terapi terhadap keadaan sistemik yang mendasarinya. (Brunner dan Suddarth, 2001)
  2. Komplikasi

    Komplikasi uveitis, meliputi ;

    1. Katarak
    2. Retinitis proliferans
    3. Ablasi retina
    4. Glaukoma sekunder, yang dapat terjadi pada stadium dini dan juga pada stadium lanjut (dr. Nana Wijana, 1993)
  1. PATOFISIOLOGI

    Sebagian besar inflamasi mata disebabkan oleh mikroorganisme, irigasi mekanis, atau sensitivitas terhadap suatu zat. untungnya inflamasi tersebut tidak meninggalkan bekas yang permanen. inflamasi kornea yang berat atau ulkus kornea dapat menyebabkan kerusakan kornea yang menyebabkan gangguan penglihatan. Komplikasi dari uveitis dapat menimbulkan perekatan, glaukoma sekunder dan hilang penglihatan.

    Sebagian besar inflamasi mata adalah tembel dan konjungstivitis. Tembel adalah infeksi folikel bulu mata atau kelenjar pinggir kelopak mata yang relatif ringan. Organisme orang yang sering menginfeksi adalah stafilokokus. Infeksi ini cenderung berkumpul karena organisma infeksi menyebar dari folikel rambut yang satu ke yang lainnya. Kebersihan yang kurang dan gangguan kosmetik yang berlebihan dapat merugikan faktor pendukung. Orang–orang seharusnya diajarkan untuk tidak memencet tembel karena infeksi dapat menyebar dan menyebabkan selulitis pada kelopak mata.

    Konjungtivitis merupakan bagian besar dari penyakit mata dan ada yang akut dan ada yang kronik. Konjungtivitis bakteri akut biasanya ditularkan oleh kontak langsung. Orang yang menyentuh matanya dengan jari akan mengkontaminasi benda–benda seperti : handuk atau lap. Organisme penyebabnya biasanya stafilokokus dan adenovirus.

    Konjungstivitis sederhana biasanya tidak lama. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis menyebabkan trachoma, suatu bentuk konjungstivitis yang jarang di Amerika Serikat. tetapi bisa menyebabkan kebutaan terutama bagi orang-orang yang hidup didaerah kering dan pendapatannya rendah, negara-negara di mediterranean yang panas dan timur jauh.

    Trachoma timbul mengikuti konjungstivitis akut, kelopak mata menjadi berparut dan terbentuk granulasi-granulasi di permukaan dalam kelopak dan menyebar ke kornea yang pada akhirnya menimbulkan hilangnya penglihatan. Pemeliharaan kebersihan penting untuk mencegah dan mengatasi trachoma. Kornea yang parut memerlukan transplantasi kornea mata. Konjungstivitis alergi biasanya disertai demam, kronis dan berulang-ulang. (Barbara C .Long, 1996)

    Konjungtiva berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikro organisme sangat besar. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film, pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig A, Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis.

  2. KONSEP KEPERAWATAN
    1. Pengkajian
  • Pengkajian ketajaman mata
  • Pengkajian rasa nyeri
  • Kesimetrisan kelopak mata
  • Reaksi mata terhadap cahaya/gerakan mata
  • Warna mata
  • Kemampuan membuka dan menutup mata
  • Pengkajian lapang pandang
  • Menginspeksi struktur luar mata dan inspeksi kelenjar untuk mengetahui adanya pembengkakan 4 inflamasi ( Brunner dan Suddarth, 2001)
  1. Analisa Data
  • Data fokus
  1. Gatal-gatal
  2. Nyeri (ringan sampai berat)
  3. Lakrimasi (mata selalu berair)
  4. Fotofobia (sensitif terhadap cahaya) atau blepharospasme (kejang kelopak mata)
  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Nyeri pada mata berhubungan dengan edema mata, sekresi, fotofobia, peningkatan TIO atau inflamasi
    2. Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea
    3. Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tidak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan, peradangan
    4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya
    5. Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya perubahan pada kelopak mata (bengkak / edema).
    6. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan
  2. Fokus Intervensi
    1. Dx Keperawatan ; Nyeri pada mata berhubungan dengan edema mata, fotofobia dan inflamasi

      Tujuan yang diharapkan ;

  • Keadaan nyeri pasien berkurang

Intervensi

  1. Beri kompres basah hangat

    Rasionalisasi : Mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan membersihkan mata

  2. Kompres basah dengan NaCL dingin

    Rasionalisasi : mencegah dan mengurangi edema dan gatal-gatal yang berat

  3. Beri irigasi

    Rasionalisasi : untuk mengeluarkan sekret, benda asing/kotoran dan zat-zat kimia dari mata (Barbara C .Long, 1996)

  4. Dorong penggunaaan kaca mata hitam pada cahaya kuat

    Rasionalisasi : cahaya yang kuat meyebabkan rasa tak nyaman

  5. Beri obat untuk megontrol nyeri sesuai resep

    Rasionalisasi : pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri
    (Brunner dan Suddarth, 1996)

  1. Dx Keperawatan ; Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea

    Tujuan yang diharapkan

  • Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.

Intervensi

  1. Tentukan ketajaman, catat apakah satu atau kedua mata terlibat

    Rasionalisasi : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif, bila bilateral, tiap mata dapat berlanjut pada laju yang berbeda tetapi, biasanya hanya satu mata diperbaiki per prosedur.

  2. Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain diareanya

    Rasionalisasi : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan menurunkan cemas dan disorientasi pascaoperatif (Marilynn E. Doenges, 2000)

  1. Dx Keperawatan ; Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan

    Tujuan yang diharapkan

  • Infeksi tidak menyebar ke mata sebelahnya ( Barbara C .Long, 1996)

Intervensi

  1. Monitor pemberian antibiotik dan kaji efek sampingnya

    Rasionalisasi : mencegah komplikasi

  2. Lakukan tehnik steril

    Rasionalisasi : mencegah infeksi silang

  3. Lakukan penkes tentang pencegahan dan penularan penyakit

    Rasionalisasi : memberikan pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri (Tarwoto dan Warunnah, 2003)

  1. Dx Keperawatan ; Gangguan citra tubuh berhubungan dengan hilangnya penglihatan

    Tujuan yang diharapkan

  • Menyatakan dan menunjukkan penerimaan atas penampilan tentang penilaian diri

Intervensi

  1. Berikan pemahaman tentang kehilangan untuk individu dan orang dekat, sehubungan dengan terlihatnya kehilangan, kehilangan fungsi, dan emosi yang terpendam

    Rasionalisasi : Dengan kehilangan bagian atau fungsi tubuh bisa menyebabkan individu melakukan penolakan, syok, marah, dan tertekan

  2. Dorong individu tersebut dalam merespon terhadap kekurangannya itu tidak dengan penolakan, syok, marah,dan tertekan

    Rasionalisasi : Supaya pasien dapat menerima kekurangannya dengan lebih ikhlas

  3. Sadari pengaruh reaksi-reaksi dari orang lain atas kekurangannya itu dan dorong membagi perasaan dengan orang lain.

    Rasionalisasi : Bila reaksi keluarga bagus dapat meningkatkan rasa percaya diri individu dan dapat membagi perasaan kepada orang lain.

  4. Ajarkan individu memantau kemajuannya sendiri

    Rasionalisasi : Mengetahui seberapa jauh kemampuan individu

    dengan kekurangan yang dimiliki (Lynda Jual Carpenito,


 

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. 2002. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta ; CV. Sagung Seto

Ilyas, Sidarta. 2003. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta ; Balai Penerbit FKUI

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta ; Penerbit Media Aesculapius

    Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Ruang

Penyegar Dan Penambah

Ilmu Keperawatan

Dapatkah saudara

Menjawab pertanyaan dibawah ini ?


 

  1. Jenis peradangan apa yang dapat terjadi pada bagian mata ?
  2. Manifestasi klinik yang biasa muncul pada penderita konjunctivitis
  3. Apa yang menyebabkan sehingga terjadi keratitis ?
  4. Bagaimanakah cara melakukan pemeriksaan fisik pada penderita dengan masalah peradangan pada mata ?

Dalam menentukan suatu masalah pada pasien dengan masalah peradangan pada mata, diagnosis keperawatan apa yang dapat ditarik ?

KELAINAN KONGENITALPADA SISTEM REPRODUKSI

KELAINAN KONGENITAL

PADA SISTEM REPRODUKSI


 


 

    Kelainan-kelainan congenital alat-alat genital dapat disebabkan oleh factor lingkungan, seperti keadaan endometrium yang mempengaruhi nutrisi mudigah, penyakit virus , dan lain-lain.Kelainan itu antara lain adalah:


 

A. Duplikasi Vulva

    Ini jarang sekali ditemukan, Bila ada, biasanya ditemukan pula kelainan-kelainan lain yang lebih berat, sehingga bayi itu tidak dapat hidup.


 

B. Hiplopasi Vulva

    Ditemukan bersamaan dengan genitalia interna yang juga kurang berkembang pada keadaan hipo progesteronisme, infertilisme, dan lain-lain. Biasanya ciri-ciri seks sekunder juga tidak berkembang.


 

C. Kelainan Perineum

    Dimana bayi tidak mempunyai lubang anus, atau anus bermuara dalam sinus urogenitalis, dan terdapat satu lubang dari mana keluar air kencing dan feases. Misalnya adalah:

  • Atresia rekti
    • Gejala klinis:

      Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam dan sejak lahir tidak ada defekasi mekonium.

    • Pemeriksaan Fisis:
      • Anus tampak merah
      • Usus melebar
      • Kadang-kadang tampak ileus
      • Termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan
      • Pada auskultasi terdengar hiperperistaltik


 


 


 

  • Pemeriksaan penunjang:

    Pada pemeriksaan radiology ditemukan:

    • Udara dalam usus terhenti tiba-tiba yang menandakan terdapat obstruksi di daerah tersebut.
    • Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bayi baru lahir
    • Dibuat foto anteroposterior ( AP ) dan lateral.
  • Pengobatan:
    • Eksisi membran anal
    • Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomia sementara setelah 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 2.Jakarta : Infomedika Jakarta


 

Wiknjosastro Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan, Cetakan ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo


 

Kamis, 31 Maret 2011

PERAWATAN PAYUDARA

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

    Pembahasan dalam makalah ini kami sajikan melalui diskusi dengan tujuan agar mahasiswa/mahasiswi memahami dan mengetahui apa yang saya sajikan.yaitu mengenai "Perawatan Payudara"

    Penyusun makalah ini berdasarkan atas buku-buku menganai Perawatan Payudara informasi Perawatan Payudara melalui internet. Kami sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca,khusus dari mahasiswa/mahasiswi sehingga lebih baik lagi pada makalah selanjutnya.

    Pada kesempatan ini ,kami ucapkan terima kasih.Semoga buku ini bermanfaat bagi si pembaca.amien....


 


 


 


 


 


 


 

PERAWATAN PAYUDARA

Tujuan Perawatan Payudara

Perawatan Payudara pasca persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil, yang mempunyai tujuan sebagai berikut :

1) Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi

2) Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet

3) Untuk menonjolkan puting susu

4) Menjaga bentuk buah dada tetap bagus

5) Untuk mencegah terjadinya penyumbatan

6) Untuk memperbanyak produksi ASI

7) Untuk mengetahui adanya kelainan

Pelaksanaan perawatan payudara pasca persalinan dimulai sedini mungkin yaitu 1 – 2 hari sesudah bayi dilahirkan. Hal itu dilakukan 2 kali sehari.

Pelaksanaan Perawatan Payudara

Persiapan Alat

1. Baby oil secukupnya.

2. Kapas secukupnya

3. Waslap, 2 buah

4. Handuk bersih, 2 buah

5. Bengkok

6. 2 baskom berisi air (hangat dan dingin)

7. BH yang bersih dan terbuat dari katun

Persiapan Ibu

1. Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dan keringkan dengan handuk.

2. Baju ibu bagian depan dibuka

3. Pasang handuk

Pelaksanaan Perawatan Payudara

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan perawatan payudara pasca persalinan, yaitu:

1. Puting susu dikompres dengan kapas minyak selama 3-4 menit, kemudian bersihkan dengan kapas minyak tadi.

2. Pengenyalan yaitu puting susu dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk diputar kedalam 20 kali keluar 20 kali.

3. Penonjolan puting susu yaitu :

1) Puting susu cukup ditarik sebanyak 20 kali

2) Dirangsang dengan menggunakan ujung waslap

3) Memakai pompa puting susu

4. Pengurutan payudara:

1) Telapak tangan petugas diberi baby oil kemudian diratakan

2) Peganglah payudara lalu diurut dari pangkal ke putting susu sebanyak 30 kali

3) Pijatlah puting susu pada daerah areola mammae untuk mengeluarkan colostrums.

4) Bersihkan payudara dengan air bersih memakai waslap.

PERAWATAN SEMASA HAMIL

Saat seorang wanita hamil, terjadi perubahan-perubahan pada tubuhnya yang memang secara alamiah dipersiapkan untuk menyambut datangnya si buah hati. Perubahan-perubahan itu antara lain berat badan bertambah, perubahan pada kulit, perubahan pada payudara, dll.

Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa menyusui. Hal ini karena payudara merupakan satu-satunya penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin. Inilah karunia Allah yang sangat besar kepada kaum wanita di mana ASI merupakan makanan paling cocok bagi bayi, komposisinya paling    
lengkap, dan tidak bisa ditandingi susu formula buatan manusia.

Perawatan payudara selama hamil memiliki banyak manfaat, antara lain:
• Menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan puting susu.
• Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga memudahkan bayi untuk menyusu.    
• Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi ASI banyak dan lancer    .
• Dapat mendeteksi kelainan-kelainan payudara secara dini dan melakukan upaya untuk mengatasinya.    
• Mempersiapkan mental (psikis) ibu untuk menyusui.

Bila seorang ibu hamil tidak melakukan perawatan payudara dengan baik dan hanya melakukan perawatan menjelang melahirkan atau setelah melahirkan maka sering dijumpai kasus-kasus yang akan merugikan ibu dan bayi. Kasus-kasus yang sering terjadi antara lain:    
• ASI tidak keluar. Inilah yang sering terjadi. Baru keluar setelah hari kedua atau lebih.    
• Puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap.    
• Produksi ASI sedikit sehingga tidak cukup dikonsumsi bayi.    
• Infeksi pada payudara, payudara bengkak atau bernanah.    
• Muncul benjolan di payudara, dll.

Kasus-kasus tersebut insya Allah bisa dicegah dengan melakukan perawatan payudara sedini mungkin. Berikut ini perawatan payudara yang bisa dilakukan:    
a. Umur kehamilan 3 bulan    
Periksa puting susu untuk mengetahui apakah puting susu datar atau masuk ke dalam dengan cara memijat dasar puting susu secara perlahan. Putting susu yang normal akan menonjol keluar. Apabila puting susu tetap datar atau masuk kembali ke dalam payudara, maka sejak hamil 3 bulan harus dilakukan perbaikan agar bisa menonjol. Caranya adalah dengan menggunakan kedua jari telunjuk atau ibu jari,    
daerah di sekitar puting susu diurut ke arah berlawanan menuju ke dasar payudara sampai semua daerah payudara. Dilakukan sehari dua kali selama 6 menit.

b. Umur kehamilan 6-9 bulan    
• Kedua telapak tangan dibasahi dengan minyak kelapa.    
• Puting susu sampai areola mamae (daerah sekitar puting dengan warna lebih gelap) dikompres dengan minyak kelapa selama 2-3 menit. Tujuannya untuk memperlunak kotoran atau kerak yang menempel pada puting susu sehingga mudah dibersihkan. Jangan membersihkan dengan alkohol atau yang lainnya yang bersifat iritasi karena dapat menyebabkan puting susu lecet.    
• Kedua puting susu dipegang lalu ditarik, diputar ke arah dalam dan ke arah luar (searah dan berlawanan jarum jam).    
• Pangkal payudara dipegang dengan kedua tangan, lalu diurut ke arah puting susu sebanyak 30 kali sehari.    
• Pijat kedua areola mamae hingga keluar 1-2 tetas.    
• Kedua puting susu dan sekitarnya dibersihkan dengan handuk kering dan bersih.
• Pakailah BH yang tidak ketat dan bersifat menopang payudara,
jangan memakai BH yang ketat dan menekan payudara.

PERAWATAN PASCA KEHAMILAN

Bagi seorang wanita, payudara adalah organ tubuh yang sangat penting bagi keberlangsungan perkembangan bayi yang baru dilahirkannya. Payudara memang secara natural akan mengeluarkan ASI begitu ibu melahirkan. Tetapi bukan berarti seorang wanita atau ibu tidak perlu merawat payudaranya.

Perawatan payudara setelah melahirkan bertujuan agar payudara senantiasa bersih dan mudah dihisap oleh bayi. Banyak ibu yang mengeluh bayinya tidak mau menyusu, bisa jadi ini disebabkan oleh faktor teknis seperti puting susu yang masuk atau posisi yang salah. Selain faktor teknis ini tentunya air susu ibu juga dipengaruhi oleh asupan nutrisi dan kondisi psikologis ibu.

Faktor nutrisi bisa dipenuhi dengan tambahan asupan kalori 500 kkal per harinya, khususnya nutrisi kaya protein (ikan, telur, hati), kalsium (susu), dan vitamin (sayur, buah). Juga, banyak minum air putih. Faktor psikologis pun penting dalam menciptakan suasana santai dan nyaman, tidak terburu-buru dan tidak stess saat menyusui.

Untuk itu, langkah-langkah dibawah ini semoga dapat membantu Anda kaum wanita dalam merawat payudara.

1. Siapkan alat dan bahan berikut    
* Baby Oil atau Minyak kelapa bersih    
* Gelas    
* Air hangat dan dingin dalam baskom kecil    
* Dua buah handuk mandi bersih    
* Kapas    
* Handuk kecil atau washlap untuk kompres    
2. Kompres puting susu dengan kapas yang dibasahi baby oil selama beberapa menit
3. Lakukan pengurutan payudara sebagai berikut :

* Pengurutan Pertama    
o Licinkan kedua tangan dengan minyak. Tempatkan kedua tangan diantara payudara.
o Pengurutan dilakukan dimulai ke arah atas, lalu telapak tangan kiri ke arah sisi kiri dan telapak kanan ke arah sisi kanan.    
o Lakukan terus pengurutan ke bawah dan ke samping.    
o Ulangi masing-masing 20 hingga 30 gerakan untuk setiap payudara.    
* Pengurutan Kedua    
o Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, kemudian dengan pinggir kelingking tangan kanan urut payudara dari pangkal hingga puting susu. Lakukan juga untuk payudara sebelah kanan.    
o Ulangi masing-masing 20 hingga 30 gerakan untuk setiap payudara.
* Pengurutan Ketiga    
o Sokong payudara kiri dengan satu tangan kiri sedang tangan kanan mengepal dan mengurut dengan buku-buku jari pangkal ke arah puting susu.
o Lakukan juga untuk payudara sebelah kanan.    
o Ulangi masing-masing 20 hingga 30 gerakan untuk setiap payudara.
* Pengurutan keempat    
o Pegang pangkal payudara dengan kedua tangan lalu urut dari pangkal payudara ke arah puting susu sebanyak satu kali    
* Pengurutan kelima    
o Pijat puting susu hingga keluar cairan ASI dan tampung dengan tempat yang bersih/gelas.    
* Pengompresan    
o Kompres kedua payudara dengan handuk kecil hangat selama dua menit, lalu ganti dengan kompres air dingin dua menit dan yang kompres lagi dengan air hangat selama dua menit.


 

Penutup

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT.Karena atas berkah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat waktu.Dapat diterima.

    Terimakasih saya ucapkan kepada Ibu Sakiah Putri selaku dosen mata kuliah yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.Terimakasih kami ucapkan pula kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan.

     Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan untuk itu kami berharap rekan pembaca mau memberikan kritik sarannya.Karna kritik dan saran kalian semua merupakan modal kami untuk menyusun makalah selanjutnya


 


 


 

Rabu, 23 Maret 2011

Askep Anafilaksis

BAB II. PEMBAHASAN


 


 

  1. KONSEP DASAR MEDIK
    1. Pengertian Anafilaksis

          Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi yang bersifat akut, menyeluruh dan bisa menjadi berat. Anafilaksis terjadi pada seseorang yang sebelumnya telah mengalami sensitisasi akibat pemaparan terhadap suatu alergen. Anafilaksis tidak terjadi pada kontak pertama dengan alergen. Pada pemaparan kedua atau pada pemaparan berikutnya, terjadi suatu reaksi alergi. Reaksi ini terjadi secara tiba-tiba, berat dan melibatkan seluruh tubuh.

          Anafilaksis adalah reaksi sistemik yang mengancam jiwa dan mendadak terjadi pada pemajanan substansi tertentu. Anafilaksis diakibatkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I , dimana terjadi pelepasan mediator kimia dari sel mast yang mengakibatkan vasodilatasi massif, peningkatan permeabilitas kapiler, dan penurunan peristaltic.



       


          Anafilaksis adalah suatu respons klinis hipersensitivitas yang akut, berat dan menyerang berbagai macam organ. Reaksi hipersensitivitas ini merupakan suatu reaksi hipersensitivitas tipe cepat (reaksi hipersensitivitas tipe I), yaitu reaksi antara antigen spesifik dan antibodi spesifik (IgE) yang terikat pada sel mast. Sel mast dan basofil akan mengeluarkan mediator yang mempunyai efek farmakologik terhadap berbagai macam organ tersebut.


       

    2. Etiologi/Penyebab

          Anafilaksis bisa tejadi sebagai respon terhadap berbagai alergen. Penyebab yang sering ditemukan adalah:

      1. Gigitan/sengatan serangga
      2. Serum kuda (digunakan pada beberapa jenis vaksin)
      3. Alergi makanan
      4. Alergi obat

      Serbuk sari dan alergen lainnya jarang menyebabkan anafilaksis. Anafilaksis mulai terjadi ketika alergen masuk ke dalam aliran darah dan bereaksi dengan antibodi IgE. Reaksi ini merangsang sel-sel untuk melepaskan histamin dan zat lainnya yang terlibat dalam reaksi peradangan kekebalan.

      Beberapa jenis obat-obatan (misalnya polymyxin, morfin, zat warna untuk rontgen), pada pemaparan pertama bisa menyebabkan reaksi anafilaktoid (reaksi yang menyerupai anafilaksis). Hal ini biasanya merupakan reaksi idiosinkratik atau reaksi racun dan bukan merupakan mekanisme sistem kekebalan seperti yang terjadi pada anafilaksis sesungguhnya.


       

    3. Manifestasi Klinik

          Gambaran kilinis anafilaksis sangat bervariasi, baik cepat dan lamanya reaksi maupun luas dan beratnya reaksi. Gejala dapat dimulai dengan gejala prodromal baru menjadi berat. Keluhan yang sering dijumpai pada fase permulaan adalah rasa takut, perih dalam mulut, gatal pada mata dan kulit, panas dan kesemutan pada tungkai, sesak, mual, pusing, lemas dan sakit perut.

          Adapun Gejala-gejala yang secara umum, bisa pula ditemui pada suatu anafilaksis adalah:

  • Gatal di seluruh tubuh
  • Hidung tersumbat
  • Kesulitan dalam bernafas
  • Batuk
  • Kulit kebiruan (sianosis), juga bibir dan kuku
  • Pusing, berbicara tidak jelas
  • denyut nadi yang berubah-ubah
  • jantung berdebar-debar (palpitasi)
  • mual, muntah dan kulit kemerahan.
  1. Patofisiologi

        Sistem kekebalan melepaskan antibodi. Jaringan melepaskan histamin dan zat lainnya. Hal ini menyebabkan penyempitan saluran udara, sehingga terdengar bunyi mengi (bengek), gangguan pernafasan; dan timbul gejala-gejala saluran pencernaan berupa nyeri perut, kram, muntah dan diare.
    Histamin menyebabkan pelebaran pembuluh darah (yang akan menyebabkan penurunan tekanan darah) dan perembesan cairan dari pembuluh darah ke dalam jaringan (yang akan menyebabkan penurunan volume darah), sehingga terjadi syok. Cairan bisa merembes ke dalam kantung udara di paru-paru dan menyebabkan edema pulmoner.

        Seringkali terjadi kaligata (urtikaria) dan angioedema. Angioedema bisa cukup berat sehingga menyebabkan penyumbatan saluran pernafasan. Anafilaksis yang berlangsung lama bisa menyebabkan aritimia jantung. Pada kepekaan yang ekstrim, penyuntikan allergen dapat mengakibatkan kematian atau reaksi subletal dan umumnya reaksi yang berat terjadi secara cepat. Individu yang terkena merasakan gelisah, diikuti dengan cepat oleh rasa ringan pada kepala yang mengakibatkan singkop. Rasa gatal di tangan dan di kepala dapat menjadi urtikaria yang menutupi sebagian besar permukaan kulit. Pembengkakan jaringan local dapat timbul dalam beberapa menit dan khususnya mengubah bentuk kelopak mata, bibir, lidah, tangan dan genitalia.


     

  2. Diagnosis

    Pemeriksaan fisik menunjukkan:

    1. kaligata di kulit dan angioedema (pembengkakan mata atau wajah)
    2. kulit kebiruan karena kekurangan oksigen atau pucat karena syok.
    3. denyut nadi cepat
    4. tekanan darah rendah.
    5. Pemeriksaan paru-paru dengan stetoskop akan terdengar bunyi mengi (bengek) dan terdapat cairan di dalam paru-paru (edema pulmoner).


       


       

  3. Pengobatan

        Anafilaksis merupakan keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera. Bila perlu, segera lakukan resusitasi kardiopulmonal, intubasi endotrakeal (pemasangan selang melalui hidung atau mulut ke saluran pernafasan) atau trakeostomi/krikotirotomi (pembuatan lubang di trakea untuk membantu pernafasan).

        Epinefrin diberikan dalam bentuk suntikan atau obat hirup, untuk membuka saluran pernafasan dan meningkatkan tekanan darah. Untuk mengatasi syok, diberikan cairan melalui infus dan obat-obatan untuk menyokong fungsi jantung dan peredaran darah. Antihistamin (contohnya diphenhydramine) dan kortikosteroid (misalnya prednison) diberikan untuk meringankan gejala lainnya (setelah dilakukan tindakan penyelamatan dan pemberian epinefrin).


     

  4. Pencegahan

        Hindari alergen penyebab reaksi alergi. Untuk mencegah anafilaksis akibat alergi obat, kadang sebelum obat penyebab alergi diberikan, terlebih dahulu diberikan kortikosteroid, antihistamin atau epinefrin.

        Serangan serangga atau beberapa jenis binatang lain sudah dapat dicegah dengan cara desensitisasi yang berupa penyuntikan berulang-ulang dari dosis rendah sampai dianggap cukup dalam jangka waktu yang cukup lama.


 

  1. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
    1. Pengkajian Pasien
  • Aktifitas/ istirahat

        Gejala    : Merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena adanya rasa takut, sesak, lemas dan pusing serta gatal/pruritus.

    Tanda    :    Gangguan Pada tungkai (kesemutan), rasa gatal pada kulit tangan dan kepala.

  • Kardiovaskuler

    Gejala    : Palpitasi, takikardia, hipotensi, renjatan dan pingsan

    Tanda    : Pada EKG ditemukan aritmia, T mendatar atau terbalik, fibrilasi ventrikel sampai asistol.

  • Integritas Ego

Gejala    : Perasaan tidak berdaya, putus asa

Tanda    : Emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira. Kesulitan untuk mengekspresikan diri.

  • Makanan/cairan

    Gejala    : Mual, muntah, sakit perut dan dapat terjadi diare.

  • Neurosensori

    Gejala    : Sinkope/pusing, kesemutan

Tanda    :    Tingkat kesadaran; biasanya terjadi koma, disorientasi, halusinasi dan kejang.

  • Nyeri/kenyamanan

Gejala    : Sakit kepala (pusing), sakit di bagian perut, gatal pada mata dan kulit.

  • Pernapasan

    Gejala    :    Rinitis, bersin, gatal di hidung, batuk, sesak, suara serak, gawat nafas, takipnea samoai apnea.

  • Interaksi Sosial

    Tanda    : Ketidakmampuan untuk berkomunikasi akibat berbagai gangguan pada tubuh, seperti gatal, sesak, dan rasa takut

  1. Diagnosa Keperawatan
  • Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan reaksi alergi, , gigitan serangga dan pruritus
  • Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan sesak, takipnea.
  • Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan mual; muntah, diare.
  • Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri kepala, ketegangan.
  • Defisit Volume cairan tubuh berhubungan dengan mual; muntah, diare, intrake kurang.
  • Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, gatal diseluruh tubuh.
  • Kurang pengetahuan mengenai kondisi/penyakit berhubungan dengan kurang pemajanan dan kesalahan interpretasi informasi


     

  1. Intervensi Keperawatan & Rasional
    1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan reaksi alergi, gigitan serangga dan pruritus

      Intervensi :

      1. Kaji kondisi kulit setiap hari, catat warna dan adanya lesi pada kulit dan amati perubahannya.

        R : Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat.

      2. Pertahankan personal hygiene kulit, mis; membasuh kemudian keringkan dengan hati-hati lakukan penggunaan lotion/krim

        R : mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi. Pembasuhan kulit sebagai ganti menggaruk u/ menurunkan resiko trauma dermal pada kulit.

      3. Gunting kuku secara teratur

        R : Kuku yang panjang/kasar dapat meningkatkan resiko kerusakan dermal.

      4. Ajari klien menghindari atau menurunkan paparan terhadap alergen yang telah diketahui. 

        R : menghindari alergen akan menurunkan respon alergi

      5. Baca label makanan kaleng agar terhindar dari bahan makan yang mengandung allergen

        R : menghindari alergen akan menurunkan respon alergi


         

    2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan sesak, takipnea.

      Intervensi :

      1. Identifikasi penyebab/factor pencetus.

        R : Identifikasi ini dapat memberikan informasi sebagai dasar dalam menetapkan intervensi selanjutnya.

      2. Monitor fungsi respirasi dan kaji tanda-tanda vital.

        R : Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi akibat stress fisiologi dan dapat menunjukkan terjadinya syok.

      3. Auskultasi bunyi nafas, misalnya berkurang/hilangnya bunyi nafas dilobus/segmen tertentu.

        R : Bunyi nafas dapat menurun atau tak ada pada lobus, segmen paru atau seluruh bagian paru.

      4. Berikan posisi semi fowler/tinggikan tempat tidur bagian kepala.

        R : Posisi membantu memaksimalkan ekdspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan.

      5. Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan melalui kanula/masker sesuai indikasi.

        R : Alat dalam menurunkan kerja nafas, meningkatkan penghilang distress respirasi dan sianosis sehubungan dengan hipoksemia.

    3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan mual; muntah, diare.

      Intervensi :

  • Pantau masukan makanan setiap hari

    Rasional : Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi.

  • Ukur BB setiap hari sesuai indikasi

    Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.

    • Berikan makan dalam porsi/jumlah yang kecil dan dalam waktu yang sering dengan teratur.

      Rasional : Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan meningkatkan kerjasama pasien saat makan

    • Kontrol faktor lingkungan (bau, bising), dan Ciptakan suasana makan yang menyenangkan

      Rasional :

    Kolaborasi:

  • Konsultasi dengan ahli gizi dan berikan Vitamin

    Rasional : Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi sesuai umur dan berat badan.


     

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri kepala, ketegangan.

    Intervensi :

    1. Bantu klien Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang

      Rasional : Lingkungan yang tenang dapat memberikan ketenangan untuk tidur

    2. Atur posisi tidur senyaman mungkin.

      Rasional : Membantu menginduksikan tidur

    3. Kaji pola kebiasaan tidur klien.

      Rasional : Mengidentifikasi intervensi yang tepat

    4. Instruksikan tindakan relaksasi

      Rasional : Membantu menginduksi tidur klien.

    5. Hindari gangguan terhadap pasien bila mungkin

      Rasional : Tidur tanpa gangguan dapat menimbulkan rasa segar, dan pasien mungkin tidak bisa tidur kembali bila telah terbangun.

    6. Penatalaksanaan pemberian obat sedative, hipnotik sesuai indikasi.

      Rasional : Membantu/memudahkan pasien untuk memenuhi istirahat/tidurnya.


     

  2. Defisit Volume cairan tubuh berhubungan dengan mual; muntah, diare, intrake kurang.

    Intervensi :

    1. Kaji kemungkinan adanya tanda-tanda dehidrasi serta catat intake dan output

      R : Membran mukosa dan kulit yang kering menunjukkan adanya tanda dehidrasi. Memantau input dan haluaran memberikan informasi tentang keseimbangan cairan tubuh.

    2. Kaji tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu)

      R : Hipotensi, takikardi dan demam dapat menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan.

    3. Anjurkan klien tetap mempertahankan intake peroral yaitu makan dan minum sedikit-sedikit tapi sering

      R :
      Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi/cairan, dan menghindari terjadinya distensi abdomen.

    4. Catat dan laporkan adanya mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi lambung

      R : Kehilangan fungsi saluran cerna dapat meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit dan mempengaruhi cara pemberian cairan/nutrisi

    5. Lakukan pemberian cairan (infuse/IV)

      R : Mengembalikan keseimbangan elektrolit dan cairan tubuh

  3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, gatal diseluruh tubuh.

    Intervensi :

    1. Bantu klien mengekspresikan perasan marah, kehilangan dan ketakutan.

      Rasional : Ansietas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung.

    2. Kaji tanda verbal dan nonverbal didampingi klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak.

      Rasional : Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah.

    3. Lakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan dan beri lingkungan yang tenang serta suasana penuh istirahat.

      Rasional : Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.

    4. Tingkatkan kontrol sensasi klien.

      Rasional : Memberikan informasi tentang keadaan klien.

    5. Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

      Rasional : Orientasi dapat menurunkan ansietas.

    6. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan kecemasannya.

      Rasional : Mengurangi ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak diekspresikan.


     


     


     

  4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi/penyakit berhubungan dengan kurang pemajanan dan kesalahan interpretasi informasi

    Intervensi :

    1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/orang terdekat tentang : Faktor risiko, faktor pencetus, perawatan tindak lanjut dirumah

      Rasional : Perlu untuk pembuatan rencana instruksi individu, mengidentifikasi secara verbal kesalahpahaman dan memberikan penjelasan

    2. Berikan informasi dalam bentuk belajar yang bervariasi misalnya leaflet tentang: Faktor risiko, Faktor pencetus, Perawatan tindak lanjut dirumah.

      Rasional : Penggunaan metode belajar yang bermacam-macam meningkatkan penyerapan materi.

    3. Dorong penguatan faktor risiko, pembatasan diet, aktifitas seksual dan gejala yang memerlukan perhatian medis

      Rasional : Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mencakup informasi dan mengasumsi kontrol/partisipasi dalam program rehabilitasi

    4. Identifikasi sumber-sumber yang ada dimasyarakat

      Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dan meningkatkan penanganan dirumah dan penyesuaian terhadap kerusakan


     


     


 


 


 


 


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

H. Suyono Slamet. 2001. Buku Ajar, ILMU PENYAKIT DALAM. Jilid II, Edisi ketiga. Penerbit; Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001

Sylvia. A. Price. 2005. PATOFISIOLOGI, Konsep klinis Proses-proses Penyakit. Volume 1, Edisi 6. Penerbit; EGC. 2005

Marilynn. E. Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Penerbit; EGC

Sandra M. Nettina. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit; EGC. 2001